Minggu, 31 Januari 2010

cahaya di atas cahaya

Sebuah mobil carry hitam tengah melaju kencang di antara belasan kendaraan lain yang berjejalan di sepanjang jalan yang meliuk-liuk khas Lembang. Sepasang anak manusia yang masih bisa dikatakan pengantin baru asyik bercanda mengingat pengalaman pertama mereka berdua mengunjungi Gunung Tangkuban Perahu.
“Cantik naon ya gunungnya…”
Mira  berucap sambil membersihkan rok hitamnya yang kotor terkena tanah basah yang mereka lalui saat mendaki puncak gunung. Saat itu musim hujan hampir merata di tanah sunda.
“Kalo’ menurut aku nieh, ada yang lebih cantik lagi ketimbang Tangkuban Perahu” Agung menimpali.
“Apa ?”
“Yaa bidadari di samping aku donk…” Agung melirikkan matanya kepada Mira, istrinya. Senyum malu terukir indah di sel-sela bibir merahnya. Tangannya bergerak menyubit pinggang kiri sang suami.
“Apaan sich…”
“Lha, gak mau dibilang cantik nieh ?” Agung tertawa tipis menggoda Irma.
“Udah ah.” Irma tertunduk malu. Sementara suasana hatinya terus berbunga-bunga menerima pujian sang suami. Ia sangat mensyukuri hidupnya sekarang. Didampingi seorang suami yang sangat menyayanginya dengan ketulusan dan cinta kasih. Ia tak pernah menyangka seorang Satria Agung Perdana memilih dia sebagai pedamping hidupnya. Seseorang yang baru dikenalnya ketika menjadi pemateri sebuah temu ilmiah Super Techno di Universitas Negeri Jakarta. Saat itu Mira menjadi salah satu peserta mewakili Institut Teknologi Bandung. Ia tidak pernah menyangka bahwa pertemuannya di acara tersebut empat bulan yang lalu telah menjadi bagian dari rekayasa Allah dalam hidupnya.

Lamunan Mira terusik oleh pertanyaan Agung “Kamu kan Bandung asli sayang. Kok baru kali ini ke Tangkuban Perahu ?”
Mira menjawab dengan senyum manisnya. “Takut ketinggian.”
“Takut ketinggian ?!” Agung mengernyitkan keningnya. “Bandungkan dikelilingi gunung. Mestinya udah biasa donk.”
“Soalnya aku pernah jatuh waktu hiking dengan teman-teman pengajian SMA dulu. Jadi agak trauma.”
Hening sejenak
“Tapi sekarang enggak lagi. Kan ada suami aku yang jagain.” Kali ini gantian Mira yang menggoda suaminya. Keduanya pun saling beradu canda.



Sementara itu, angin menyapa dua helai kain putih dan pink yang membungkus masing-masing dua wajah cantik dara asal Bandung dan Pontianak di tepi jalan Gegerkalong Girang. Disty dan Aira. Panas matahari siang tak menyurutkan langkah keduanya menuju masjid Daarut Tauhid tempat akan dilaksanakannya Kajian Muslimah Untuk Negeri. Kaki keduanya mengayun cepat karena waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 wib. Lantunan suara merdu dari speaker masjid sudah terdengar mengiris hati Aira. Azan.

Setibanya di pelataran masjid, keduanya menarik napas dalam-dalam untuk menyeimbangkan detak jantung mereka yang sedari tadi berdegup cepat mengikuti iringan langkah keduanya. Mereka segera naik ke lantai atas untuk melakukan shalat dzuhur berjama’ah. Kondisi masjid tampak ramai oleh para jama’ah akhwat.”Hemm, sepertinya mereka ingin ikut kajian juga” bisik hati Aira.

Terdengar iqamah dari barisan depan jamaah laki-laki.
“Hayya ‘alashsholah….”
“Hayya ‘alal falah…”
“Qaddqamatishshalatu qaddqamatishsholah…”
“Allahu akbar, Allahu akbar…”
“Laa ilaaha illallaah”

Aira merapikan jilbab pinknya dan berdiri di bagian belakang shaff bersama Irma. Aira memfokuskn dirinya ke depan, kemudian dengan mantap melantunkan takbirratur ihram setelah sang imam melakukannya. Ia tenggelam dalam kecintan bersama Tuhannya.

“Assalaamu’laikum warahmatullhi wabarakaatuh”
“Assalaamu’laikum warahmatullhi wabarakaatuh”

Sang imam mengucapkan salam sebagai rukun terakhir dari shalat. Aira pun memberikan salam ke kanan dan kiri. Kemudian ia mengusap wajahnya dengan lembut. Ia melantunkan puji-pujian kepada Tuhannya disertai shalawat cintanya kepada  Rasulullah. Kurang lebih selama tiga menit ia larut dalam dzikirnya. Tangan lentiknya pun menengadah memancat beribu-ribu pinta.

“Allahu rabbi…..”
“Yaa Rahman… Yaa Rahim….”
“Al Malikul Quddusussalam….”
“Ya Allah Tuhanku yang Maha Rahman, ampunilah dosa hambamu yang lemah ini”
“Sungguh Rabbi, tak ada satupun kekuatan hamba untuk tetap bertahan di negeri orang jika bukan karena Engkau. Karena Kekuasaan_Mu_lah hamba tetap tegar melewati sejuta peristiwa hidup ini.”
“Allahu Rabbi ampunilah dosa hambamu ini jika ada terselip keputusasaan dalam hati ini.”
“Allahu Rabbi ampunilah dosa hambamu ini jika ada terselip kemarahan di hati ini atas takdir_Mu”
“Allahu Rabbi ampunilah dosa hambamu ini jika berjuta kemaksiatan yang hamba lakukan menutup cahaya cinta_Mu sampai ke relung hati ini.”
“Allahu Rabbi, tiada daya upaya kecuali atas kekuatan_Mu”
“Subhana rabbil Izzati ‘amma yashifuun…”
“Wassalamun ‘alal mursalin walhamdulillahirabbil ‘alamin…”

Aira menutup doanya dengan beberapa tetes airmata beningnya. Gejolak kehidupannya di kota rantauan, Bandung, memang sempat menyesakkan dadanya semenjak setahun terakhir ini. Ya, tepat setahun setelah ayahnya meninggal dunia sejak kecelakaan maut di tol Kapuas tempat asalnya di Kota Pontianak. Sejak itu ia harus membiayai kuliahnya sendiri di Institut Teknologi Bandung. Ibunya sudah tak mampu membiayai lagi karena masih ada empat orang adiknya yang lebih prioritas untuk dibiayai sekolahnya. Aira pun memutuskan untuk cuti setahun untuk mencari pekerjaan-pekerjaan sampingan sambil mengumpulkan uang untuk biaya skripsinya. Baginya sayang melepaskan cita-cita yang sudah dirajutnya empat tahun lalu hanya karena biaya. Namun ia menyadari bahwa penelitiaannya di bidang biokimia memerlukan biaya yang cukup tinggi. Belum lagi beban cicilan laptop yang harus dilunasinya setiap bulan. Ia pun bekerja keras untuk mewujudkan salah satu cita-citanya yaitu meraih gelar sarjana di universitas terbesar di Bandung ini. Dan itu semua tentu saja bukan hal yang mudah baginya. Berbagai cobaan dan hinaan menerpa hidupnya. Terkadang sesal, putus asa dan kemarahan menghiasi sudut hatinya. Namun ia menyadari bahwa itu semua adalah resiko dari pilihan hidupnya. Mulai dari tukang cuci baju di kompleks-kompleks elit sampai berjualan obat-obatan herbal dilakninya. Baginya, apapun yang penting halal.

Kepenatannya selama setahun ini dalam urusan dunia tentu saja tidak membuatnnya lupa akan hari akhir. Ia tetap konsisten dalam amalan yauminya. Tetap hadir tepat waktu dalam kajian rutin pekanannya bersama Umi Linda, istri Ustadz Mubarak pemilik salah satu Yayasan Islam yang menaungi Taman Kanak-kanak dan sekolah Dasar Islam Terpadu di Bandung. Dalam kesibukannya, ia pun masih menyempatkan dirinya untuk mengikuti beberapa kajian Islam baik di lingkungan kampus maupun di Daarut Tauhid. Kajian Muslimah Untuk Negeri yang ia kunjungi kali ini pun pada awalnya hanya karena niatan untuk membahagiakan sahabatnya Disty yang sangat kesemsen dengan semua kajian yang berbau perempuan. Ia pun menyanggupi permintaan sang sahabat. Apalagi di hari libur kali ini ia tidak harus kerumah Bu Salsa tempatnya bekerja sebagai tukang cuci karena mereka sekeluarga tengah berlibur ke Jakarta. Ia pun lebih banyak waktu di pagi hari untuk menulis beberapa karya ilmiah. Ia berencana untuk mengikuti lomba karya tulis bidang biokimia yang diselenggarakan oleh LIPI Bandung.

Suasana lantai atas Masjid Daarut Tauhid sudah semakin penuh oleh jama’ah yang mau mengikuti kajian. Para akhwat berjejalan mencari tempat kosong. Disti segera menggait tangan Aira menuju ke lantai paling atas. Kemudian mengambil posisi paling depan. Aira pun mengikuti jejak sang sahabat. Tiba-tiba Aira melepaskan tangannya. “Aku beli pulpen dulu ya. Pulpenku ketinggalan di kost.”
“Waduhhh, ntar kita gak kebagian tempat…,” protes Disty.
“Bentar aja kok. Kamu kosongin aja tempat untukku. Ok !” Aira merayu sahabatnya. Disty pun mengiyakan keinginan sahabatnya dengan raut wajah tak ikhlas.
Sementara itu Agung dan Irma masih saling bercanda.
“Mas, dah kelewat dzuhur nih. Kita shalat di DT aja ya. Sekalian aku mau beli rok buat gantian.” Ucap Irma sambil memperhatikan roknya yang masih kotor.
“Ya ampun cintaaa, buat apa beli rok ?! Tinggal dibersihin aja di tempat wudhu kan bisa.Tanah kan bukan najis. Lagipula cuma segitu kok. Kena air juga bakalan hilang….”
“Gak ah mas…, kurang sreg. Gak apa ya aku beli…” Irma mengeluarkan rayuan mautnya dan sang suami hanya bisa menggeleng.

Agung memarkirkan mobilnya di parkiran samping supermarket yang tepat berada di depan masjid. Ia keluar mobil lalu memutar dari arah depan menghampiri pintu sebelah kiri. Ia pun membuka pintu itu dengan lembut. “Silahkan tuan putri….” Gayanya sok seperti seorang pangeran yang mengajak sang pujaan hati untuk berdansa. Mereka pun lalu berjalan menuju masjid. Tepat setelah mereka menyeberang jalan, mereka pun berpisah. Irma langsung menuju ke pertokoan di sisi kanan, sedangkan Agung berjalan melewati selasar akhwat menuju pintu utama masjid.

Di saat bersamaan Aira menuruni tangga masjid menuju selasar. Saat kaki kanannya menginjak tangga terakhir, matanya terpana melihat sosok Agung yang melintasi jalan. Matanya terus mengikuti gerak tubuh Agung hingga hilang di matanya saat Agung memasuki masjid. Pikiran Aira seolah-olah kosong seperti para undangan wanita Zulaikha saat Yusuf as berjalan melintasi mereka hingga tak tersadar mengores sendiri tangan mereka dengan pisau. “Subhanallah…. Siapa pemuda itu ? Pundaknya begitu tegak. Langkahnya penuh kepastian. Dan pandangannya lurus ke depan. Pasti ia ciptaan yang luar biasa.” Aira melirih dalam hati. “Tapi sayang wajahnya hanya bisa terlihat dari samping.” Tambahnya.

Tet. Tet.Tet……
Suara klakson motor mengagetkan Aira. “Astaghfirullah…. Astaghfirullah…. Astaghfirullah….” Aira beristighfar. Ia mencoba menata ulang hatinya. “Astaghfirullah…”
Aira pun menyeberang dengan hati-hati. Ia berjalan menuju supermarket yang baru dibuka. Kebiasaan supermarket ini adalah tutup di waktu-waktu shalat. Aira langsung mengambil pulpen dari rak-rak yang berjajar di dalam supermarket. Beberapa ikhwan disana memperhatikannya. Aira terheran-heran karena pengalamannya selama beberapa kali berbelanja di supermarket ini tidak pernah diperhatikan seperti itu. Mereka seolah-olah ingin mengucapkan sesuatu namun tidak jadi. Seperti bermain layangan. Tarik ulur. Tarik ulur. Aira pun berucap dalam hati. “What ever.”

Aira pun keluar dari supermarket setelah membayar di kasir. Ia berjalan menuju masjid. “Kok jalannya panas banget ya.” Ia bergumam dalam hati.

Dari seberang jalan tampak Irma yang sudah keluar dengan rok barunya. Ia menjinjing kantong plastik yang berisi rok kotor. Matanya tertuju pada Aira yang tengah celingukan kiri dan kanan saat ingin menyeberang. Irma tersenyum tipis. Mereka tepat berpapasan di depan masjid. Irma yang sebelumnya belum pernah kenal dengan Aira lalu menyapa seperti dua orang kakak adik yang selalu bersama. “Kakinya gak kepanasan teh ?” Tanya Irma dengan lembut. Aira menyambut kelembutan hati Irma dengan berucap pasti “Iya nih teh, panas banget. Gak tahu kenapa. Padahal cuma nyeberang jalan yang hanya beberapa meter aja.”

“Ya iya atuh panas. Kenapa sendalnya gak dipake…” Irma tersenyum melihat wajah Aira yang kebingungan kemudian brubah malu.
“Mmmasa sih teh..?!” Aira pura-pura bertanya sambil memperhatikan kakinya yang hanya berbalut kaos kaki coklat muda.
“Ya, ampun…. Kok bisa lupa make sandal, ya…”
“Gak papa cuma aku aja kok yang memperhatikan. Pasti tadi pikirannya kesambet ya. Sampai lupa make sandal. Buru-buru ya tadi ?!”
“Oh, iya. Tadi memang terburu-buru.” Jawab Aira gak yakin.
“Ya udah, besok-besok gak usah terburu-buru lagi. Saya naik ke atas dulu ya. Assalaamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.” Aira membalas salam Irma. Rasa malu menjalar di sekujur tubuhnya. Pantas aja para ikhwan di supermarket sedari tadi memperhatikannya. Masya Allah. Mungkin karena aku begitu terpesona dengan pemuda yang tadi lewat. Keterpesonaan yang beberapa detik itu telah membuat Aira tidak akan melupakan kejadian memalukan hari ini.

Ia pun bergegas ke lantai atas dan memilih duduk di bagian belakang. Ia sudah tak berminat lagi untuk mengikuti kajian. Ia sangat menyesali sikapnya.

Namun jauh berbeda dengan perasaan seorang pemuda di pintu masuk supermarket. Pemuda yang sedari tadi memperhatikan tingkah pola seorang akhwat berjilbab pink lebar yang berjalan memasuki supermarket tanpa sandal. Ia tertawa dalam hati tanpa menyadari bibirnya menyembulkan senyum penuh geli. “Kenapa, akh ?” Tanya Anton memperhatikan sahabatnya Dimas yang tampak seperti orang gila nyasar jadi penjaga supermarket. “Kesambet bidadari ya..? tanyanya lagi menggoda.
“Apaan sich. Gak kok. Buruan masuk. Lama banget di masjidnya. Ini kan shiff kita buat jaga.” Dimas mengalihkan pembicaraan.
“Afwan akhi, tadi di masjid ada Ustadz Mubarak. Ustadz favorit ana. Kangen. Dah lama gak dengar suaranya. He he.”
“Oh…ustadz yang tadi pada dikerubutin para ikhwan ya….Tampaknya memang cukup berwibawa dengan keshalehannya”
“Bukan cukup berwibawa. Tapi memang berwibawa.. Waduh…, andai aku gak kerja. Aku juga mau ngetem di dalam buat dengerin nasehat beliau bersama para ikhwah disana. Pasti ada banyak inspirasi yang berjejal di otakku jika sekarang aku duduk disana.”

“Ah… bilang aja antum lagi malas kerja. He he.”
“Enak aja. Lagipula masa’ tadi kamu gak tertarik sih untuk gabung ke dalam kerumunan. Gak ketarik sama magnet keshalehan Ustadz Mubarak ya…? ”
“Bukan gak ketarik. Tapi ini masalah tanggung jawab terhadap pekerjaan. Lagipula aku gak nyesal kok memilih datang kesini lebih awal.” Mata Dimas melirik ke arah masjid.
“ya udah. Masuk yuk. Kerja ! Kerja !” ucap Dimas sambil menggiring tubuh Anton masuk ke dalam. Dalam hati Anton mengira bahwa semangat Dimas mungkin muncul karena nanti sore ia bisa menerima gaji pertamanya setelah hampir genap sebulan bekerja di sini menggantikan akh Fery yang sakit sejak sebulan ini. Ia berniat mengajak Dimas untuk menjenguk akh Fery ba’da maghrib nanti.

“Akh ! Ba’da maghrib kerumah akh Fery yuk… Jenguk… Sekalian kita bawa oleh-oleh. Kan kita gajian sore ini. Gimana ?”
“Waah, ide bagus tuh. Sekalian ngucapin terima kasih. Antum jemput ane ya…?”
“Sipp….”





Titit. Titit.  Bunyi SMS masuk terdengar dari handphone Irma.

Sayang, kita pulangnya nanti yach. Di bawah ada Ustadz Mubarak nih. Mau minta nasehat dikit. Siapa tahu dapat pencerahan…
 Irma membalas
Ya udah. Salam aja buat ustadz. Aku ikut kajian di atas aja. Klo udahan, sms lg.

Irma berjalan menuju lantai atas. Kajian sudah hampir dimulai. Irma memperhatikan keadaan sekeliling. “Waduuuuh, gak seru nih duduk di bagian belakang” bisiknya. Matanya celingak celinguk mencari tempat yang strategis. Otomatis ia melihat ada sedikit tempat kosong di bagian depan. Tepatnya di samping Disty yang cukup kesal karena Aira enggan maju ke depan.

Takdir Allah pun bermain disana. Dari arah belakang Irma muncul seorang akhwat dan umahat yang ternyata keduanya adalah moderator dan pemateri kajian. Irma langsung mendapat ide untuk mengikuti mereka dari belakang dan ketika sampai di depan ia bisa langsung menuju tempat kosong yang sudah diintainya.

Saat telah sampai di depan, Irma langsung duduk dan menyalami dua orang di samping kanan dan kirinya termasuk Disty. Disty menyapa Irma dengan sopan.
“Darimana teh…?” Tanya Disty
“Dari Lembang. Kebetulan lewat sini mau sekalian dzuhuran.”
“Bukan kebetulan, Tapi udah takdirnya Allah…’
Mereka tersenyum bersama.
“Teteh sendiri ?” Tanya Disty lagi.
“Oh enggak. Sama suami. Tapi lagi keasyikan di bawah. Ngobrol sama ustadz favoritnya.”
“Ustadz Mubarak ya teh…?
“Iya. Kok tahu ?”
“Tadi sempat denger-denger obrolan akhwat-akhwat disini.”

Obrolan mereka terhenti karena pembawa acara sudah membuka kajian. Dan sedetik kemudian suasana di ruang atas masjid tampak lengang.

Aira membuka-buka buku agenda kerjanya. Sore ini ia harus mengantarkan obat ke rumah mbak Nisa. Obat yang diantarnya dua pekan lalu sudah habis.

**
Tok tok tok.
“Ra, udah hampir maghrib. Gak bangun ??”
Tok tok tok.
Aira tersadar dan melihat jam di sudut layar handphonenya. Astaghfirullah. Sudah jam lima. Aku harus menelpon teh Nisa.
“Assalaamu’alaikum teh...”
“Wa’alaikumsalam, Ra..., jadi mau ke rumah ?”
“Iya, teh.., tapi aku ketiduran..., menjelang maghrib gak pa pa ?”
“Ya..., ditunggu ya...”
“Ok, makasih, teh..., Assalaamu’alaikum”
Aira menutup telponnya dan bergegas mandi.


Nisa mempersilahkan Aira masuk sekaligus mengajaknya shalat karena waktu maghrib sudah tiba. Mereka shalat berjama’ah tiga rakaat. Obrolan hangat menghiasi bibir mereka sambil ditemani teh hangat dan beberapa pisang goreng yang terletak di piring kaca berwarna biru metalik. Aira pun memberikan obat pesanan Nisa dan bergegas pulang setelah menerima uang empat puluh enam ribu rupiah. Sesaat akan pulang terdengar langkah kaki Fery, suami Nisa yang sedang dituntun masuk rumah oleh adiknya. Kondisi kesehatan Fery memang sedang kurang sehat selama sebulan terakhir. Fery divonis mati enam bulan ke depan akibat leukimia yang dideritanya. Selama sebulan terakhir ia sudah lima kali bolak-balik rawat inap di rumah sakit dan akhirnya Nisa, istrinya memutuskan untuk melakukan pengobatan tradisional untuk membantu suaminya terlepas dari ujian sakit meskipun menurut dokter peluangnya kecil. Namun Nisa percaya bahwa perhatian darinya serta keluarga besar akan mampu menyembuhkan penyakit suaminya.

Salah satu langkah yang ditempuhnya adalah mencoba menggunakan pengobatan alternatif lewat minuman tradisonal yang dijual oleh Aira. Seminggu setelah mengkonsumsinya, kesehatan Fery sedikit mengalami perubahan. Hal ini dapat dilihat dari sudah tidak lagi ia mengeluh sakit kepala setelah mengkonsumsi minuman tradisional yang dijual oleh Aira.

“Assalamu’alaikum...” suara Fery masuk ke ruangan
“Wa’alaikumsalam, Bi...” Nisa bergegas menghampiri suaminya dan membantu menuntunnya.
“Abi gak papa, mi...” Ia memandang istrinya penuh cinta kemudian beralih pada Aira.
“Ada Dek Aira..., sendiri aja Ra..?”
“Iya A’, ini ngantarin minumannya lagi”
“Oh iya, jazakillah ya..., mudah-mudahan ini menjadi jalan kebaikan untuk dek Aira”
“Amin..., insyaallah, semoga dapat membantu lebih baik.” Aira tersenyum kemudian beranjak pamit.

Sesampai di pintu keluar tampak olehnya dua orang ikhwan yang sedang berboncengan memarkirkan motor mereka tepat di depan rumah Fery. Nisa langsung mengenali keduanya dan berseru ke arah dalam, “Bi, akh Dimas dan akh Anton datang !”

*** bersambung***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar