Bernafas tanpa udara
Dian melangkah cepat menyusuri lengang-lengang jalan perkotaan yang basah oleh rintik hujan. Kakinya bergerak cepat seakan tak mau dikalahkan oleh lajunya air yang turun dari langit. Rok hitamnya basah terkena genangan air yang menghambur ke arahnya ketika sebuah motor melaju dengan kencangnya menerobos lampu merah. Hatinya menggerutu namun tetap berusaha berlapang dada karena tidak ada yang bisa dilakukannya kecuali itu.
Ia mendekap erat tas gendong yang berada dalam rangkulannya. Menjaga agar air tidak merembes masuk dan membasahi apa-apa yang berada di dalamnya. Lima menit lagi sampai. Ucapnya dalam hati. Ia tak memperdulikan getaran ponsel di saku jaketnya karena ia tahu pastilah itu Andri yang meneleponnya.
Tampak olehnya pintu halang rel kereta api yang memisahkan jalan Mangkubumi dan Malioboro. Becak-becak bermantel plastik berjejeran disana. Hanya beberapa orang berpayung aneka warna mengantri hingga ular besi itu menanpakkan ekornya dan telah hilang suara alarm halang pintu yang tak lagi asing didengar oleh mereka.
Dian berbelok menuju stasiun tugu dan memilih untuk menyusuri jalan beratap yang sengaja dibuat untuk pejalan kaki. Kini ia tepat berada di mulut stasiun dan mengalihkan seluruh pandangannya ke arah dalam berusaha mencari sosok yang ia cari.
Dirogohnya saku jaketnya. Lima panggilan tak terjawab dari Andri. Ia menelpon balik. Dan dari sana terdengar suara Andri menjawab.
“Assalaamu’alaikum, dimana ukh ?”
“Wa’alaikumsalam, sudah di stasiun akh..., di dekat ruang informasi. Antum dimana ? sudah berangkat ya ?”
“Belum, sebentar saya ke sana. Ditunggu ya...”
“Iya, afwan, assalaamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam warahmatullah....”
Tak lama muncul dari arah pintu depan Andri dengan ransel besar di punggung mereka. Menyapa Dian yang tengah mencoba menghangatkan dirinya.
“gak pake payung, po ?” sapa Andri
Dian tersenyum malu “Enggak, tadi buru-buru, afwan ini berkas-berkasnya.” Ia memberikan segepok kertas berlapis plastik hitam.
“Alhamdulillah, syukron. Kami berangkat dulu ya....”
“Ya, hati-hati. Saya langsung pulang juga.”
“Sebentar...” Andri menurunkan ranselnya dan membuka jaketnya. Dian tampak panik.
“Pakailah !! Biar gak sakit...”
“Tapi....”
“Pakai aja...., baru dilaundry kok...”
Dian membisu.
“Hey..., udah ambil..., gak usah pake mikir... Saya punya satu lagi di ransel”
Andri menyodorkan jaketnya sambil tersenyum melihat Dian yang tampak kikuk.
“Dian..., Dian...” Andri menggeleng-gelengkan kepala kemudian meletakkan jaketnya di pot tanaman di samping Dian kemudian mengenakan kembali ranselnya kemudian menuju peron.
“Assalaamu’alaikum...”
Dian berbaring di atas tempat tidurnya menatap jaket abu-abu yang tergantung di belakang pintu kamar kostnya. Jaket yang hanya bertempelkan emblem bertuliskan save palestine di lengan kiri. Dan ia tenggelam dalam mimpi indahnya. Sementara itu di tengah lajunya kereta, Andri membuka selembar demi selembar dari segepok kertas yang diberikan Dian tadi sore. Alhamdulillah berkas lamaran kerjanya lengkap dari cv hingga sertifikat-sertifikat.
“Afwan, printer saya rusak . Bisa tolong diprintkan gak berkas-berkas lamaran kerja saya ? Sudah saya kirim ke email anti. Afwan, karena kost anti gak terlalu jauh dari stasiun tugu. Jadi mungkin bisa terkejar. Saya mendadak dapat kabar wawancara besok pagi dan harus berangkat sore ini sedangkan saya belum packing barang. Sekarang masih ada syuro’. “
Andri membaca kembali isi pesan singkat yang ditujukannya ke Dian sambil tersenyum malu... Maaf Dian kalau saya sedikit dzalim. Saya hutang budi sama anti...
Kereta Api Senja Utama telah sampai di Pasar Senen. Andri menunggu beberapa detik hingga pintu keluar tak lagi berdesak-desakan oleh para penumpang. Ia melangkahkan kaki keluar kereta. Saat itu tepat pukul empat subuh. Tempat ini masih sama seperti dua tahun yang lalu ketika Ia, Dian dan Rinda pergi mengikuti lomba karya Ilmiah di Kementrian Riset dan Teknologi. Stasiun inilah tempat pertama kalinya mereka mencoba keberuntungan dalam dunia penulisan ilmiah. Alhamdulillah kala itu mereka meraih juara pertama. Dan masih terngiang pula di benak Andri kala itu ia berjanji untuk kembali kesini. Bukan untuk kembali menjadi pemenang lomba, tapi untuk menjadi bagian dari Kemenristek itu sendiri. Dan nafas itu terasa kian dekat.
Pagi itu Andri tampak dengan pakaian terbaiknya. Celana panjang hitam dengan kemeja krem berbalut dasi hitam bermotif batik. Tampak gagah. Ia duduk diantara dua puluh orang lainnya yang hari ini mengadu nasibnya di salah satu departemen yang cukup bonavit untuk dimasuki para pecinta sains dan teknologi. Mereka semuanya tentulah para lulusan sarjana keluaran universitas-universitas besar di seluruh Indonesia. Mereka semua tentu punya mimpi besar untuk memajukan sains dan teknologi Indonesia yang masih jauh tertinggal dari dunia. Satu per satu dari mereka dipanggil ke ruang interview hingga tiba pada gilirannya. No urut tujuh.
Setahun kemudian sebuah sms masuk di inbox ponsel Dian. Ia membaca seksama isi sms itu kemudian bergegas menuju kost Rinda dengan linangan air mata. Rinda merangkul sahabatnya. Dia tahu ada kesedihan di wajah Dian. Tak ingin ia bertanya tentang apa. Ia biarkan Dian menumpahkan semua kesedihannya. Sejenak Dian melepaskan pelukannya sembari meminum segelas air putih yang dosodorkan oleh Rinda. Dian menunjukkan sms di ponselnya tanpa bicara.
~Assalaamu'alaikum, dengan mengharap kebahagiaan dalam barakah ALLAH swt, kami mengundang antum/na dalam walimatul 'ursy Indira Muthma'nnah dan Muhammad Andri, Ahad, 20 November 2011 di Asrama Haji Malang. Kehadiran dan doa restu sangat kami harapkan~
Rinda menatap lembut wajah Dian sambil memberikan senyum penyemangat. Ia beranjak ke lemari bukunya mengambil sebuah majalah kecil yang tak lagi baru. Membukanya di sebuah halaman berjudul bernafas tanpa udara.
“ini tulisanmu waktu SMA dulu. Mungkin bisa menjadi obat bagi hatimu”
Dian menatap heran. Tapi segera mengambil majalah itu. Sebuah majalah sekolah. Islamic Teens Magazine. Dibacanya dengan khusuk sebuah kolom taujihat.
~Bernafas Tanpa Udara – Dian Shalihat~
Siapakah yang tahu akan rahasia Allah. Sungguh semua sudah ditakdirkan atasmu perkara-perkara yang menjadi hak mu. Hidup..., Mati..., Rezeki..., semua sudah digariskan oleh Allah Yang Maha Berkehendak. Tidak ada yang luput dariNya.
Begitu pula dengan jodoh..., hehe, mungkin aneh ya kalau di usia muda seperti kita ini membahas tentang jodoh ??! tapi ya gak papa deh..., untuk tambahan ilmu gak ada salahnya Dian berbagi dengan rekan-rekan pecinta Islamic Teens Magazine.
Beberapa hari yang lalu, sahabatku, sebut saja Rana (bukan nama asli dan bukan berasal dari sekolah kita, jadi gak perlu diterka-terka), curhat padaku. Ia sedang jatuh cinta dengan teman satu kelasnya. bukan baru saja jatuh cinta...., tapi perasaan itu sudah dipendamnya dari kelas dua SMP. Hemmm, berarti sudah hampir tiga tahun ya... Temanku itu tampak merasa sangat merana karena ternyata cintanya ditolak mentah-mentah.
Si pujaan hati telah punya pacar....
Teman-teman, sebenarnya apa sih itu cinta ?? Menurus Anis Matta dalam bukunya Serial Cinta...., Cinta itu....seperti angin membadai… kau tak melihatnya, tapi merasakannya. Begitulah cinta, ia ditakdirkan menjadi kata tanpa benda. Seperti banjir menderas, kau tak kuasa mencegahnya dan hanya bisa ternganga saat ia menjamah seluruh permukaan bumi. Demikianlah cinta.
Dan menurutku...., cinta adalah energi yang membangkitkan...., energi yang menghidupkan...., energi yang membahagiakan...., dan ketahuilah teman, bahwa hanya ALLAH_lah sumber energi itu....
Kok larinya ke ALLAH ya ?!! Hehe, iya donk...., karena ALLAH lah yang menitipkan rasa ini.... Rasa yang terlampau agung untuk disalahartikan. Rasa yang sepatutnya dikendalikan hingga ia bermuara pada tempat yang halal. Di hati lelaki/wanita yang telah IA janjikan.
Dan bagaimana jika rasa itu terus membelenggu ?? Maka, panjatkanlah doa padaNYA dengan sepenuhnya berserah diri....
"Ya Allah sungguh rasa ini datangnya dariMu. Bukan sesuatu yang sulit bagiMu untuk menyabutnya kembali dari hatiku. Dan tentu menjadi sesuatu yang lebih mudah pula bagiMu untuk menanamnya kembali di hatiku dengan rasa yang lebih indah..."
Dian menyeka air mata di pipinya. Ia malu sekaligus terjernihi oleh kata-katanya sendiri. Tulisannya tujuh tahun yang lalu..., dan dalam penjagaan keikhlasannya atas takdir yang telah ALLAH gariskan, ia berdoa
"Ya. RABB...., Aku yakin atas takdirMu...
Bahkan hingga aku bernafas tanpa udara...., jika engkau menghendaki, maka tidak ada yang sulit bagiMu..."
Dan jari jemarinya pun membalas sms itu...
"Barakallah...., semoga kebahagiaan untukmu sahabatku.... :D"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar