Senin, 30 April 2012

Jilbab Putih Untuk Istriku

Jilbab Putih Untuk Istriku

“Huh..., capek...!!” keluh Tania sambil mengeluarkan nafas panjang dari mulutnya. Panas matahari hari itu sangat menyengat meskipun ia telah mengunakan payung saat menyusuri setiap tapak jalan. Perjalanan selama lima belas menit dari kampus Farmasi menuju kostannya di daerah pogung cukup memanggang kulit putihnya yang mulus. Namun tentu saja itu tak mampu menghilangkan cantik di wajahnya. Juga anggun di setiap langkahnya. Setiap tolehan kepalanya menyebabkan ujung rambut panjangnya menari indah di punggungnya. Membuat semua mata yang melihatnya akan silau oleh keindahan rambutnya yang hitam.

Ia kembali menarik nafas panjang untuk kembali menyeimbangkan emosinya. Dikeluarkannya secara perlahan. Stay calm. Ucapnya dalam hati sambil tersenyum pada dirinya sendiri. Matanya tiba-tiba tertarik dengan sebotol es teh botol yang sepertinya mampu menghilangkan dahaga di lehernya yang kering. Dan tanpa pikir panjang ia membeli dan langsung meneguknya.

“Tania...” sapa seseorang yang suaranya tak asing dari telinganya.
“Mbak Isnin... mau kemana ?”
“Kampuslah...”
“Udah panas gini ngapain ke kampus mbak... ?” Tania bertanya lugu
“ada pengajian dek...., mau ikut ?”
“Hemm...” Tania mengelum senyum sambil sedikit mengangkat kedua alisnya.
“Nanti deh mbak, kapan-kapan...., hehe”
Isnin hanya tersenyum sambil menahan geli “mbak sumpahin kamu masuk surga deh...”
“hahaha..., emang Nia kelihatan jadi calon penghuni neraka ya mbak...?” tanyanya sedikit cemberut namun tetap bisa tersenyum karena ia tahu Isnin hanya bercanda. “Tapi, amin deh...” lanjutnya sambil tersenyum lebar. “saya juga sumpahin mbak Isnin jadi tetangga saya di surga nanti...”
“hahaha...., janji ya..., jadi kita tetap bisa main sepeda bareng...”
“hahaha...., emang di surga ada sepeda mbak....”
Mereka pun saling tertawa sebelum akhirnya berpisah.

Isnin adalah teman satu kost Tania. Dua tingkat di atasnya dan saat ini sedang berjuang menyelesaikan skripsinya di Fakultas Ilmu Bahasa UGM. Ramah. Itu kesan pertama yang muncul. Dan terbukti di kesan-kesan selanjutnya. Ia juga pintar mengendalikan situasi. Dan secara fisik tinggi dan cantik. Otaknya pintar. Akhlaknya mulia. Perfect.

Tania berbaring-baring bosan di kamarnya memandang langit putih di kamarnya sambil menghayal gak jelas. Matanya menyapu sisi kanan kamarnya. Ada foto penghuni kost di pojok meja belajarnya. Diambil dan diperhatikannya foto berbingkai coklat itu. Diperhatikannya tiga orang disana sambil tersenyum geli dan mulai membuka memori di otaknya. Aku. Mbak Indah. Mbak Isnin.

Indah. Si gadis bertubuh gemuk. Tapi tetap manis dengan satu lesung pipit di pipinya. Tak terlalu tinggi. Namun tetap proporsional dengan berat badannya.

“Mbak Indah. Teman kost yang cerewet. Untung bukan ia yang jadi ibu kost. Kalau iya, tentu gak ada yang mau kost di sini. Terlalu cerewet untuk setiap barang-barang yang berantakan. Hahaha.” tawanya geli dalam hati. “Untung udah nikah dan keluar dari sini. Gak ada lagi deh yang ngomelin kalau aku lupa membereskan minum dan sisa snack di rung tivi...” Tania terus berbicara sendiri.

Senyum termanis abad 21. Itu rayuan yang selalu diucapkan Tania kala ia mulai mengamuk karena kecerobohan Tania yang kadang di luar batas. Dan rayuannya berhasil. Mbak Indah..., kangen... teriak hatinya dalam hati sambil berharap seandainya mbak Indah menunda pernikahannya satu atau dua tahun lagi sehingga ia masih bisa tertawa bersama. Memecahkan suasana kost yang hanya memiliki tiga kamar itu. Atau bermain sepeda bersama setiap sabtu dan minggu pagi di Grha Sabha Pramana. Aku ingin selalu bersama kalian.... Ternyata perjalanan hidup selama setahun bersama dua orang jilbaber gede, Indah dan Isnin begitu berkesan di hatinya. Kadang ia berkhayal, kapan ia bisa berjilbab seperti mereka.

“Hayo ngayalin apa ?” sebuah kepala muncul dari arah pintu kamar Tania yang memang sengaja tidak dirapatkan. “Mbak..., kok udah pulang ? Pengajiannya gak jadi... ?” Isnin langsung berbaring di samping Tania tanpa menjawab. Tania bangkit dan duduk di kasurnya yang empuk. Isnin mengulum senyum. “Kenapa mbak senyam senyum ?”

Isnin ikut bangkit dan mengecup kening Tania. “Aduh..., ganas banget sih mbak” Ia mengusap keningnya yang tadi dikecup Isnin. Atau mungkin lebih tepatnya ditanduk oleh bibirnya.
“Mbak mau nikah....” Isnin tersenyum lebar dan amat bahagia. Namun pernyataan itu justru bagai petir bagi tania. Ia terdiam kemudian berlari keluar mengambil sepedanya dan terus mengayuh tanpa tujuan. Ada bulir air mata mengalir di pipinya. Ia sama sekali tak menghiraukan teriakan Isnin di belakangnya. Suara yang sekian lama semakin menghilang.

Jam sembilan malam. Pintu kost mereka dibuka dari luar. Tania masuk dengan mata bengkak. Isnin menunggu di sofa ruang tivi kemudian berdiri dan tersenyum lembut pada Tania. “Lets talk...” ucapnya mengendalikan situasi. Isnin duduk di sofa diikuti oleh Tania.

“Rasulullah menyunahkan setiap umatnya untuk menikah dan menyempurnakan diennya. Bukan untuk sekedar bersenang-senang. Tapi untuk memberikan ketenangan di jiwa. Dan dengan itu semua peradaban Islam akan tetap ada. Karena akan lahir dari itu semua generasi-generasi pilihan yang akan menegakkan kalimatullah di muka bumi ini. Untuk menebarkan kasih sayang. Ar Rahman..., Ar Rahim...”
“Islam juga...”
“I knew that..., Mbak Indah ever ask me same like that... But...” Suara Tania tertahan. “But I want we can still like that. Everyday make more laught. Bycycling every weak. And that you said.... ukhuwah...”
Hening.
“I want you and Mbak Indah still hear... I want you always hear... I really love you are... becouse I get something that I can’t take in another place and another situation. You make me close and more close to God. Something that make me silent. And I know much thing that I need to learn more about Islam from you and mbak Indah. But you will go after mbak Indah... It’s not fair to me. Stayed me in dark and alone. And may be make me going to the hell.”

“dek...” Isnin membantah
“I am not your God. And Indah too. But I am just your friend that Allah’s have. Don’t put our in your heart becouse that wil enter your heart and so there is no place for ALLAH. How can you close with ALLAH.”
Isnin melanjutkan “Kami hanya hamba ALLAH yang dititipkan untukmu. Hanya dititipkan untukmu. Mungkin sebagai jalan untukmu menuju ALLAH. Dan setelah kau menemukan jalannya dan ALLAH tahu kau kini sudah bisa berjalan sendiri, maka ALLAH mengambil kami yang dititipkan...”
“Tapi kenapa begitu cepat ?”
“Dek..., tidak ada yang pernah tahu rahasia ALLAH bahkan satu detik setelah ini.”
“I can’t live without you all...”
“Of course you can... And I trust you know it. Just trust your heart”
Isnin memeluk Tania yang sudah dianggap sebagai adiknya sendiri. “lagi pula..., akad nikahnya masih tiga bulan lagi dek..., masih ada waktu...”
Isnin berpikir “Masih ada waktu untuk lomba sepeda besok pagi...”
Tania mengangkat kepalanya dari dekapan Isnin. “Hemm...” keningnya berkerut kemudian berucap “bukannya besok hari rabu...”
“Tak peduli hari apapun...” Isnin senyum mengembang. Ia mengelap sisa air mata di wajah Tania dan mulai menggoda “Kalau lagi nangis gini makin tampak cantik deh... hahaha..., siapak ikhwan yang beruntung mendapatkan bidadari Titania Az Zahra ???”
Tania tersenyum malu sambil menggelitik pinggang Isnin.

Pagi yang begitu menggairahkan. Matahari mulai mengintip malu. Namun Isnin sudah siap dengan sepedanya di depan kost menunggu Tania. Sesaat Tania keluar. “Cantik gak ?” tanyanya pada Isnin. “Subhanallah...” Isnin lari menghampiri Tania meninggalkan sepedanya kemudian memeluknya erat. “Subhanallah...” Ia meneteskan air mata. “Let’s take a picture..”
Isnin mencolek hidung Tania. “Of course...”
Kini tak terlihat lagi kulit putih mulusnya kecuali apa yang boleh tampak olehnya. Rambutnya yang hitam nan indah telah tertutupi sebuah jilbab putih yang tak kalah indah dari rambutnya. Tak dipenuhi oleh banyak hiasan. Namun hanya sedikit sulaman hijau di tiap tepi sisinya. Sangat padu dengan kaos hijau lumut berlengan putih dan rok kotak-kotak hijau. Ditambah sepatu kets putih yang sporti.
“You more beauty than angel...” Isnin memuji.
“Hemm...., of course...” tawanya geli.
Mereka pun meluncur mengelilingi Grha Sabha pramana berulang-ulang kemudian berbelok ke lembah UGM. Suasana pohon yang rindang memelankan ayuhan sepeda mereka.

“Siapa yang melamar mbak ?” tanya Tania di sela nafasnya.
“Namanya Indra.”
“Indra siapa ? anak mana ? kenal dimana ?
Isnin tersenym. “Indra Fahrullah... dulu sekolah di kedokteran UI. Dan sekarang buka klinik di daerah Bantul. Kota kelahirannya.”
“Kok bisa kenal ?”
“Ya. Dikenalin sama murabbi...”
“Kenapa mau ? kan gak kenal...., emang bagus apa orangnya ?
“Ya berdasarkan biodata yang diisinya..., juga ta’aruf dengannya..., pertimbangan murabbi..., dan istikharah.... Adek tahu kan kalau Islam tidak mengajarkan pacaran. Tapi ta’aruf....”
“Ya, tahu sich... Cuma gak habis pikir aja kenapa bisa begitu.”
“Ya bisa saja...”
“Mbak Isnin begitu. Mbak Indah juga. Trus aku gimana donk ?”
“Ya begitu juga....”
“Gimana caranya... ? masa’ aku harus datang ke gerombolan pria-pria berjanggut tipis teman-temannya mbak Isnin kemudian dengan lugunya berkata Apakah ada yang mau menikah dengan saya ? ini biodata saya, tolong dipelajari.”

“Hahaha..., ya diserahkan ke murabbi dan biarkan sistem ALLAH bekerja mempertemukan adek dengan sang pangeran...”
“Aku gak mau nikah dengan pangeran mbak....”
“Hemm..., kenapa ?” tanya Isnin heran.
“Aku mau menikah dengan ksatria yang gagah berani. Yang bisa mengajarkan tentang ketaatan..., kebaikan...., kebenaran.... dan kemuliaan dunia akhirat...”
Tania tertegun bingung. “Tapi aku gak punya murabbi mbak....”
“Mau dicariin ? Berarti mulai sekarang mau donk ikut pengajian...?”
“Pengajian ya...?” tanya Tania ragu “Bisa gak ya punya murabbi tapi gak ikut pengajian...”
“hahaha...., katanya mau dekat sama ALLAH..., tapi kok diajak ikut pengajian ogah-ogahan...?”
“hehe... Ia deh mau.... ”
“Yang ikhlas donk..., biar bisa jadi insan yang lebih bertakwa..., yang berada dalam kebaikan..., kebenaran... dan kemuliaan dunia akhirat..”
Isnin berhenti dan menarik nafas panjang untuk kemudian dihembuskan. Tania memperhatikan ekspresi wajahnya dan tiba-tiba teringat seseorang.

“Kenapa mbak gak nikah dengan Mas Gangga aja ?”
“Hemm.., kenapa tanya begitu...?”
“Ah..., gak..., cuma kepikiran aja...”
“He is not my type dan istikharah mbak tak menjawab ia....”

“Apa ? jadi mas Gangga pernah dijodohin sama mbak ?”
“Ia dek..., sekitar setahun yang lalu... Mbak gak tahu kenapa. Mungkin karena mbak belum siap. Tapi mbak mencoba untuk beristikharah berulang-ulang kali. Tapi jawabannya tetap tidak. Tak ada perasaan apapun di hati mbak. Dan tak ada getar apapun di hati mbak.”
“Tapi Mas Gangga cinta sama mbak... ?”
“Allahu’alam..., cuma beliau dan ALLAH yang tahu.”
“Tapi..., apa alasan kuat mbak untuk menolaknya ? kalau di kampusku..., justru Mas Gangga adalah yang paling dipuja-puja semua teman-teman putri Farmasi. Ganteng. IPK 4. Kaya. Santun. Shaleh. Lucu. Ketua BEM lagi...”

“Ia. Beliau memang memiliki kesempurnaan itu... Dan nyaris tak bercacat. Tapi mbak sama sekali tidak mendapatkan beliau di hati mbak sebesar apapun mbak mencoba. Dan dari biodatanya, mbak tidak menangkap bahwa ia pribadi yang ingin punya pasangan hidup seperti mbak. Dan mbak juga beranggapan bahwa dia bukan pribadi yang cocok buat mbak. Meskipun kenyataannya dia mengajukan biodatanya ke mbak........ Mungkin karena ia yakin pula dengan pilihan murabbinya.”

Tania menunggu.

“Beliau dan mbak sama-sama korelis dan terlampau sulit disatukan.”
“Sering beda pendapat ya..?”
“Bukan masalah perbedaan pendapat dek. Tapi hati mbak mengatakan kalau dia bukan jodoh mbak...”
“Trust your heart...?!!” Tania setengah bertanya.
“Ya. Trust your heart”

“berarti mbak udah mantap banget donk ya dengan Mas Indra...?”

“Ya. InsyaALLAH, dek...”

“Hemm..., oh iya, emang menurut mbak..., akhwat seperti apa yang cocok untuk Mas Gangga ?”
“Hemm...?!! kenapa tanya begitu ?”
“Ouw..., gak..., nanya aja...” Tania tersipu.
“I think...., he likes... someone like you...”
“Hemm...” Tania heran sementara Isnin tertawa kecil.

Hari itu cukup melelahkan bagi Tania. Setelah lelah bersepeda dan dilanjutkan dengan berbelanja pakaian muslim untuknya, kini ia mulai merebahkan tubuhnya sambil menunggu waktu ashar. Pikirannya sejak tadi pagi terngiang akan perkataan Isnin. I think..., he likes... someone like you. Ia tersipu malu sendiri. Ntah karena ge er atau memang kenyataannya begitu, Gangga memang terkadang bersikap aneh jika bertemu dengannya. Tapi tentu tak mungkin seorang aktivis dakwah menyukai tampilan wanita seperti Tania yang kala itu belum berjilbab. Tentulah ia memilih akhwat berjilbab lebar seperti teman-temannya mbak Isnin. Not someone like me... Mungkin ia Cuma sesaat terpesona. Tentu tak sama seperti halnya puluhan teman-teman cowoknya yang selalu mencari kesempatan untuk dekat dengannya. Mas Gangga terlampau berbeda.
Ah.., sudahlah...., lagipula bagaimana kami bisa dipertemukan. Bukankah wanita yang baik untuk laki-laki yang baik. Dan laki-laki yang baik untuk wanita yang baik. Mungkin terdengar klasik. Tapi itulah yang terlihat..., setidaknya oleh mbak Indah yang kini amat berbahagia dengan hidupnya yang baru. Dan mbak Isnin yang akan segera menyusul. Dan aku..., aku dua tahun lagi aja. Lagipula aku baru masuk semester tiga kok... Semoga saat itu tiba..., aku sudah menjadi sedikit lebih sempurna di mata ALLAH sehingga Ia akan pilihkan yang baik untukku. Ia tersenyum sambil terlelap.

Suara azan terdengar. Tania mengambil wudhu. Ia membentangkan sajadahnya di depannya. Tiba-tiba ada seorang lelaki yang membentangkan sajadahnya pula. Kemudian ia mengimami shalat Tania.

“Dek..., dek..., ayo shalat ashar” Isnin membangunkan.
Allahuakbar... ternyata Cuma mimpi. Dan wajah lelaki dalam mimpinya itu terbayang begitu dekat. Mas Gangga...

Hari ini adalah hari pertama Tania ke kampus menggunakan jilbab rapi. Ia tahu bahwa ia akan membuat heboh seluruh kampus. Primadona farmasi. Pemenang speech contest sejogja. Yang tidak hanya cantik. Tapi juga lihai berbahasa Inggris. Dan ia menjadi bahan gosip sekampus. Termasuk para dosen.

“Tania...” suara memanggil dari belakang.
“Rika...” sahutnya.
“Barakallah..., I like your style now...”
“hahaha..., thank you very much...”
“dengar-dengar  bulan depan ada english debatting contest wilayah jogja-jateng. Anti udah daftar ?”
“aaa...” suara Tania tersekat. Anti. Rika memanggilnya dengan sebutan anti. Seperti kata ganti kamu yang sering muncul dalam percakapan Mbak Indah dan Mbak Isnin, pikirnya.
“aaa I don’t know...” jawabnya bingung.
“Iya, ada pengumumannya di depan jurusan. Bagaimana kalau kita satu kelompok. Kami kekurangan satu orang anggota.”
“Kami ? Maksudnya...., maksudku berapa orang tiap kelompok ?”
“Tiga orang. Aku. Mas Gangga. And now I need you...”

Mas Gangga... Hatinya tiba-tiba bergetar. Ya Allah, kenapa perasaanku jadi tak menentu seperti ini. Bagaimana mungkin selama setahun lebih aku berinteraksi dengannya tak pernah terpikir olehku tentang dia, namun tiba-tiba ia muncul dan terngiang kuat dalam otak dan hatiku ketika mendengar ucapan  he likes someone like you sampai terbawa-bawa dalam mimpi.

“Mau ya ?” Rika memohon.
“Emm..., aku... istikharah dulu...”
“Apa ?? istikharah ?? Ouw..., ya..., I'll wait you” ucap Rika ragu sambil mencari-cari pembenaran atas istikharah yang dilakukan hanya untuk memilih bergabung dalam kelompok debatting contestnya atau tidak.
“Oh, iya,  apa tema debatnya ?”
“Islamisasi Sains... Ada dua tema yang lain sich..., tapi sepertinya gak cocok dengan background kita yang eksak...”
“Tapi aku gak ngerti tema itu...”
“untuk konsepnya udah dibuat sama mas gangga. Cuma untuk tata bahasanya kita masih perlu diskusi lebih lanjut.” Kemudian ia melanjutkan “ayo ku temani ke depan jurusan..., tapi temani aku dhuha dulu ya...”
“Shalat dhuha ? Aku ikut ya...”

Mereka pun bergegas menuju mushalla. Dan takdir ALLAH mempertemukan mereka berdua dengan Gangga yang baru keluar dari mushalla.
“Mas Gangga...,” sapa Rika.
“wah..., ada Tania...” Ia memperhatikan penampilan Tania yang tampak cantik dengan busana muslimnya. Ia tersenyum kemudian mengacungkan kedua jempolnya.
Tania jelas gerogi dan hanya bisa tertunduk malu. Sementara Gangga melanjutkan ucapannya “Gimana, bersedia bergabung dengan tim kami ?”
“Ouw..., itu..., saya...” pikiran Tania menjadi kacau.
“Tania perlu istikharah dulu mas.” Jelas Rika. Tania menyikut tangan Rika tanda malu dan menimpali “Bukan, mas..., saya..., itu...” kata-katanya kembali tersekat.
“Ya..., istikharah itu penting untuk mengambil setiap keputusan... terutama keputusan penting dalam hidup kita. Dan debatting contest ini juga cukup penting...” sela Gangga tak yakin kemudian melanjutkan “Ok, saya duluan ya...”

Gangga berlalu. Reflek tubuh Tania mengikuti gerak langkahnya dan mengarahkan pandangannya. Pandangan yang tak berbalas. Ah..., aku Cuma ke ge er an.



Assalaam’alaykum, Rika, InsyaALLAH saya mau join di debatting contest. ~Tania :D.
Tania menulis pesan singkat ke Rika. Dan beberapa menit kemudian mereka saling berbalas sms.
Alhamdulillah..., senang dengarnya... btw anti ke kampus gak hari ini ?
Iya ke kampus. Ada janji sama Prof. Sabirin...
Hemm, kalau gitu sekalian ambil draft debatnya ke Mas Gangga 085245167467 ya... coz aku gak ke kampus hari ini. Nenekku sakit di Klaten jadi aku sekeluarga pagi ini berangkat...
Ouw..., ok...
 Dengan detak jantung yang cepat Tania mulai memforward sms pertamanya ke Gangga.
 Assalaam’alaykum, Mas Gangga, InsyaALLAH saya mau join di debatting contest. Hari ini bisa ketemu untuk bahas draft debat ? dmn ? jam brp ? ~Tania :D.
Dan normalnya seseorang yang tengah jatuh cinta, hatinya begitu bahagia ketika mendapat sms dari orang yang disukainya.
Wa’alaikumsalam..., ok, jam sebelas di depan jurusan ya..., belum dibahas dulu. Ntar nunggu Rika pulang. Pun Tania harus baca-baca dulu toh...
Dan dengan senyum bahagia Tania membalas. Ok.

Berita itu mengguncang hati Tania. Mas Gangga akan menikah ?! Kenapa mas ? kenapa tidak memilih aku ? Aku jatuh cinta sama antum. Dan amat sangat dalam perasaan ini. Amat sangat dalam. Tahukah engkau bahwa tidak ada orang lain yang aku pikirkan kecuali engkau. Aku sangat bahagia jika bisa berada di dekat antum. Amat sangat bahagia. Kenapa pilih orang lain.  TIDAKKAH ENGKAU TAHU BETAPA BESAR RASA CINTAKU PADAMU.

Air mata Tania tak mau berhenti mrnangis
YA Allah..., berilah hamba kekuatan untuk bisa melewati ini semua.... Berat ya ALLAH..., amat sangat berat............

Tania bergegas meninggalkan beringharjo. Tak dipedulikannya tukang parkir yang melihat merah mata dan basah pipinya. Tania mengendarai motornya tanpa tujuan. Ia tak peduli pada ramainya lalu lalang kendaraan bermotor di kanan dan kirinya. Ia masih menangis.
Tiba-tiba ia sudah berada di depan Masjid Kampus UGM. Dan ia memutuskan untuk masuk. Setelah shalat dua rakaat, hatinya mulai tenang.


Pagi itu seperti biasa Tania menuju laboratorium. H-5 ucapnya. Ia menarik nafas panjang. I am strong. Jam di dinding laboratorium menunjukkan pukul sembilan pagi ketika Gangga memasuki laboratorium. Deg. Tania mencoba mengendalikan dirinya. Aku harus bicara padanya. Dan aku tak peduli apa yang akan dipikirkannya. Rabbi, maaf kalau apa yang aku lakukan hari ini bukan sesuatu yang tepat.
“mas Gangga boleh ngobrol sebentar gak ?”

Gangga meletakkan tas nya di meja laboratorium dan sambil mengeluarkan satu jilid skripsi yang akan diserahkannya ke dosen pembimbingnya pagi ini.
“oh iya, boleh... kenapa..., kenapa... ?”
Suasana hening beberapa detik. Gangga memperhatikan Tania yang tiba-tiba terdiam.
“gak lagi sariawan kan ?” Gangga mencoba berkelakar. “kenapa ? hasil analisisnya jelek ? mana sini biar tak liatin...”
Tania masih diam. Gangga bingung harus bicara apa lagi.
“atau saya serahkan ini dulu ke prof Danang ya ?”
Pertanyaan Gangga sijawab Tania dengan sebuah pernyataan yang sangat mengguncang hatinya.

“Saya jatuh cinta sama antum.”
Tania menatap keterkejutan di mata Gangga. Gangga menelan air ludahnya sendiri. Dan kini ia yang terdiam.
“Ya, saya jatuh cinta sama antum sejak bersama di tim english debatting contest. Saya jatuh cinta sama antum.” Tania menaruk nafas panjang. “saya tahu seharusnya tak seperti ini. Tapi saya ingin mengungkapkannya agar bisa membantu melapangkan hati saya untuk bisa menerima takdir Allah.”
Tania tersenyum tipis untuk membesarkan hatinya, “tapi kita belum berjodoh....”
“’afwan...” Gangga menjawab.
“gak pa pa kok..., tidak bisa dipaksakan... Sebanyak apapun air mata saya menetes..., tak kan mampu menghapus apapun yang sudah tertulis di lauhl mahfudzh”
“’afwan...” Gangga kembali meminta maaf.
“dan......, saya gak bisa datang di resepsinya...., bukan karena gak sanggup..., tapi karena ada saudara mau datang dari Bandung...”
“iya, gak pa pa”
“saya mau titip ini saja,” sambil mengeluarkan sebuah kantong putih “ini buat istri Mas Gangga”
“hemm” Gangga mengangkat alisnya.
“Ini buat istri mas Gangga loh..., bukan buat Mas Gangga...” Tania memberi senyum tulus dan setengah bercanda tanda berlapang dada.
Melihat senyum itu, Gangga pun ikut tersenyum.
“iya, akan disampaikan...maaf untuk semuanya...., saya ke prof. Dadang dulu ya...”
 “Semoga selalu dilimpahkan kebahagiaan dalam barakah Allah SWT,“ Tania melepas senyum. Terima kasih yaa Rabb...” ucapnya dalam hati....




Suasana resepsi sudah mulai sepi. Semua orang sibuk berberes-beres. Gangga memasuki kamar pengantinnya. Dilihatnya sang istri yang tengah menyisir rambutnya. Subhanallah. Begitu cantiknya ia. Rambutnya hitam berkilau tergerai jatuh. Kulitnya putih halus. Seketika sang istri tersadar bahwa Gangga memperhatikannya. Ia hanya bisa tersenyum dan bersyukur atas nikmat yang Allah berikan.
“jodoh itu memang Allah yang mengatur. Tak ada kuasa sedikit pun dari manusia untuk menolaknya kala ia datang. Dan Allah tahu yang terbaik bagi hambaNya. Setiap garis hidup yang dilalui tidak akan pernah lepas dari takdir Allah. Semua jelas tertulis di Lauhl Mahfudz.” Bisiknya dalam hati sambil terus menyisir rambutnya yang sebenarnya tidak lagi kusut.

Gangga mendekati istrinya dengan membawa sebuah kantong plastik putih. “I have something for you...”
“hemm ?!!” sang istri heran.
“Saya punya sahabat. Anaknya lucu. Cantik. Dan sedikit manja meskipun ia punya obsesi yang cukup besar untuk mewujudkan mimpi-mimpinya.”
Sang istri tersenyum malu.

“Suatu hari ia berkata bahwa ia jatuh cinta pada mas. Sebenarnya Mas juga ingin bilang aku jauh lebih jatuh cinta sama kamu. Tapi itu tidak mungkin karena Mas sudah buat komitmen dengan wanita lain dan hanya dalam hitungan hari akan melangsungkan pernikahan. Tapi takdir Allah berkata lain. Kecelakaan di tepi jalan berliku menuju kota Wonosari memisahkan kami. 

Dan takdir ALLAH membawa mas di sini. Di malam ini, ia yang mas cintai tepat berada di depan mas. Hanya syukur yang bisa terucap atas kebahagiaan yang Allah berikan. Mas hanya berharap doa yang ia sampaikan dulu benar-benar terwujud. Semoga selalu dilimpahkan kebahagiaan dalam barakah Allah SWT.”

Gangga menarik nafas. “dan ini hadiah yang dititipkannya sama Mas. Ia berpesan bahwa kado ini untuk istri Mas. Bukan untuk Mas. Dan malam ini kado ini Mas serahkan....”
Tania membuka kado yang dulu pernah dibungkusnya. Mengeluarkan sebuah jilbab putih yang indah. Yang dibelinya kala mendapat berita sang pujaan hati akan menikah dengan akhwat lain. Dan atas kuasa Allah jilbab putih itu kembali ke tangannya. Air mata menetes di pipinya. Seketika itu pun Gangga memeluk dan membelai rambutnya. “Hemm..., jilbab putih untuk istriku.”

Kemudian ia mencium kening istrinya dan berucap “I Love You”
Maha Suci Allah yang menyatukan dua hati yang sabar menanti takdir jodoh.
Maha Suci Allah yang menyatukan dua hati yang berserah diri atas garis takdirnya.

Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berkumpul untuk mencurahkan mahabbah hanya kepada-Mu, bertemu untuk taat kepada-Mu, bersatu dalam rangka menyeru (di jalan)-Mu, dan berjanji setia untuk membela syariat-Mu, maka kuatkanlah ikatan pertaliannya. Ya Allah, abadikanlah kasih sayangnya, tunjukkanlah jalannya dan penuhilah  dengan cahaya-Mu yang tidak pernah redup, lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman dan keindahan tawakkal kepada-Mu, hidupkanlah dengan ma’ridat-Mu, dan matikanlah dalam keadaan syahid di jalan-Mu. Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar